Banyuwangi adalah
kabupaten terluas di Jawa Timur. Karakter wilayah yang terletak di ujung
paling timur pulau Jawa ini juga menarik untuk di ketahui selain
wilayah tapal kuda dan wilayah arek yang dikenal dengan sebutan “Lare
Osing.”
Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi dan penduduk
mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Suku Osing
merupakan perpaduan budaya dan tradisi yang ada di Banyuwangi dan
dikenal dengan istilah Negeri Belambangan.
Ada tiga
elemen masyarakat yang secara dominan membentuk stereotype karakter
Banyuwangi yaitu Jawa Mataraman, Madura-Pandalungan (Tapal Kuda) dan
Osing. Persebaran tiga entitas ini bisa ditelisik dengan karakter
wilayah secara geografis yaitu Jawa Mataraman lebih banyak mendominasi
daerah pegunungan yang banyak hutan seperti wilayah Tegaldlimo,
Purwoharjo, Bangorejo dan Tegalsari. Sedangkan masyarakat Madura lebih
dominan di daerah gersang seperti di kecamatan Wongsorejo, Muncar dan
Glenmore. Sementara masyarakat Osing sendiri dominan di wilayah subur di
sekitar Banyuwangi kota, Giri, Glagah, Kabat, Rogojampi, Songgon,
Singojuruh, Cluring dan Genteng.
Meski masyarakat yang
ada di Banyuwangi ini terdiri dari berbagai elemen dari entitas yang
berbeda, namun sangat adaptif, terbuka dan kreatif terhadap unsur
kebudayaan lain hingga memungkinkan banyak sekali adanya akulturasi,
salah satu hasil dari akulturasi budaya tersebut adalah bahasa Osing.
Karakter egaliter menjadi ciri yang sangat dominan dalam
masyarat Osing. Ini tampak dalam bahasa Osing yang tidak mengenal
tingkatan bahasa seperti bahasa Jawa atau bahasa Madura. Struktur
masyarakat Osing pun tidak berorientasi pada priayi seperti orang Jawa
juga tidak pada kyai seperti orang Madura dan tidak juga pada Ksatria
seperti kasta orang Bali ( Sumber: Heru SP Saputra, Shrintil, 2007 ).
A. Sejarah Bahasa dan Masyarakat Osing
Sejarah bahasa dan masyarakat Osing kabupaten Banyuwangi tidak bisa
dipisahkan dari sejarah kerajaan majapahit. Masyarakat Osing hakikatnya
adalah keturunan dari kerajaan Blambangan yang terletak di ujung timur
pulau Jawa. Kata Osing sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno Sing atau
Hing yang artinya “Tidak.” Sebutan ini menurut Dosen fakultas Sastra
Universitas Jember Novi Anoegrajekti (dalam Majalah Tempo on-line, ,
diunduh pada 17 Maret 2010 pukul 20:30), mengacu pada pengalaman
traumatik masyarakat Blambangan akibat serangan kerajaan Majapahit yang
terus-menerus. Pengalaman ini mengakibatkan sikap defensif masyarakat
Osing terhadap orang Majapahit, sehingga kata Using yang berarti tidak
itu tercetus. Ada sikap antipati dari orang Blambangan terhadap
masyarakat Jawa Kulon yang berbahasa Jawa mataraman itu. Pernyataan ini
diperkuat dengan penelitian Prof. Dr. Suparman Heru Santosa yang telah
mengadakan uji linguistik terhadap bahasa Using. Dari penelitian Prof.
Suparman, disimpulkan bahwa Bahasa Osing merupakan dialeg dari bahasa
Jawa Kuno. Jadi sama dengan bahasa Jawa modern, Sunda, atau Bali. Namun
masih kebanyakan dari ahli bahasa Jawa menyatakan bahwa bahasa Osing
adalah salah satu dialeg dari bahasa Jawa.
Osing bukan istilah yang
dipakai untuk menyebut penduduk keseluruhan Kabupaten Banyuwangi. Suku
Osing terdapat hanya di bagian tengah dan bagian utara Kabupaten
Banyuwangi, terutama di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Rogojampi,
Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Giri, Kecamatan
Kalipuro, dan Kecamatan Songgon.
Secara linguistik, bahasa ini
termasuk dalam rumpun bahasa Jawa daricabang Melayu-Polinesia dalam
rumpun bahasa Austronesia. Namun seiring dengan perkembangannya, bahasa
Osing telah mengakar kuat menjadi dialeg khas Banyuwangi. (Sumber:
Holmes, Janet.An Introduction to Socialinguistik (2001)).
B. Sistem Pengucapan atau Fonologi
Bahasa Osing mempunyai keunikan dalam sistem pelafalannya, antara lain:
· Adanya diftong [ai] untuk vokal [i] : semua leksikon berakhiran "i"
pada bahasa Osing khususnya Banyuwangi selalu terlafal "ai". Seperti
misalnya "geni" terbaca "genai", "bengi" terbaca "bengai", "gedigi"
(begini) terbaca "gedigai".
· Adanya diftong [au] untuk vokal [u]:
leksikon berakhiran "u" hampir selalu terbaca "au". Seperti "gedigu"
(begitu) terbaca "gedigau", "asu" terbaca "asau", "awu" terbaca "awau".
· Lafal konsonan [k] untuk konsonan [q]. Di Bahasa Jawa, terutama
pada leksikon berakhiran huruf "k" selalu dilafalkan dengan glottal "q".
Sedangkan di Bahasa Osing, justru tetap terbaca "k" yang artinya
konsonan hambat velar. antara lain "apik" terbaca "apiK", "manuk",
terbaca "manuK" dan seterusnya.
· Konsonan glotal [q] yang di Bahasa Jawa justru tidak ada seperti kata [piro'], [kiwo'] dan demikian seterusnya.
· Palatalisasi [y]. Dalam Bahasa Osing, kerap muncul pada leksikon
yang mengandung [ba], [pa], [da], [wa]. Seperti "bapak" dilafalkan
"byapak", "uwak" dilafalkan "uwyak", "embah" dilafalkan "embyah",
"Banyuwangi" dilafalkan "byanyuwangai", "dhawuk" dibaca "dyawuk".
Dari ciri vonologis di atas dapat terlihat perbedaan dengan pengucapan
dalam Bahasa Jawa modern. Meski ada kesamaan secara kosakata, namun cara
pengucapan yang berbeda terkadang membuat orang yang biasa berbahasa
Jawa tak mengerti ketika mendengar ucapan dalam Bahasa Using (Priantono,
2005). Perbedaan inilah yang menjadi salah satu penciri Bahasa Using
dari Bahasa Jawa. Meski sama-sama berasal dari akar Bahasa Jawa Kuno,
ada perbedaan yang menghasilkan Bahasa Osing sebagai bahasa yang berdiri
sendiri.
Ciri khas lain dari bahasa Osing adalah dalam gaya
penggunaan. Tidak seperti Bahasa Jawa yang mengenal unggah-unggahan
bahasa seperti Ngoko, Kromo, dan seterusnya, Dalam Bahasa Osing tidak
ditemukan hal serupa. Yang ada hanya gaya bahasa berbeda untuk situasi
yang berbeda, bukan karena status sosial. Selain itu, ada pula perbedaan
penggunaan pronomina (kata sapaan) untuk orang dengan umur atau
kedudukan yang berbeda, sekali lagi bukan karena status sosialnya.
Cara penggunaan pronomina yang berbeda itu dapat dilihat di bawah ini:
§ Siro wis madhyang? = kamu sudah makan?
§ Riko wis madhyang? = anda sudah makan?
Hiro/Iro = digunakan/lawan bicara untuk yang lebih muda(umur)
Siro = digunakan/lawan bicara untuk yang selevel(umur)
Riko = digunakan/lawan bicara untuk yang diatas kita (umur)
Ndiko = digunakan/lawan bicara untuk orang tua (bapak/ibu)
Sedangkan dalam fungsi penggunaan, dibedakan dua cara yakni cara Osing
dan cara Besaki. Cara Osing digunakan untuk keperluan sehari-hari atau
kebutuhan umum. Cara Besaki sendiri hanya dipergunakan saat okasi
penting seperti ritual keagamaan dan upacara pernikahan.
C. Varian Bahasa Osing
Bahasa Osing mempunyai banyak kesamaan dan memiliki kosakata Bahasa
Jawa Kuno yang masih tertinggal. Namun di wilayah Banyuwangi sendiri
terdapat variasi penggunaan dan kekunaan juga terlihat di situ. Varian
yang dianggap Kunoan terdapat utamanya diwilayah Giri, Glagah dan Licin,
dimana bahasa Osing di sana masih dianggap murni. Sedangkan Bahasa
Osing di Kabupaten Jember telah banyak terpengaruh bahasa Jawa dan
Madura. Serta pelafalan yang berbeda dengan Bahasa Osing di Banyuwangi.
D.Gaya Penggunaan Bahasa
Di kalangan masyarakat Osing, dikenal dua gaya bahasa yang satu sama
lain ternyata tidak saling berhubungan. Yakni Cara Osing dan Cara
Besiki. Cara Osing adalah gaya bahasa yang dipakai dalam kehidupan
sehari-hari, dan tidak mengenal bentuk Ngoko-Krama seperti layaknya
Bahasa Jawa umumnya. Yang menjadi pembedanya adalah pronomina yang
disesuaikan dengan kedudukan lawan bicara, misalnya :
§ Siro wis madhyang? = kamu sudah makan?
§ Riko wis madhyang? = anda sudah makan?
§ Hiro/Iro = digunakan/lawan bicara untuk yang lebih muda(umur)
§ Siro = digunakan/lawan bicara untuk yang selevel(umur)
§ Riko = digunakan/lawan bicara untuk yang di atas kita (umur)
§ Ndiko = digunakan/lawan bicara untuk orang tua (bapak/ibu)
Sedangkan Cara Besiki adalah bentuk "Jawa Halus" yang dianggap sebagai
bentuk wicara ideal. Akan tetapi penggunaannya tidak seperti halnya
masyarakat Jawa, Cara Besiki ini hanya dipergunakan untuk
kondisi-kondisi khusus yang bersifat keagamaan dan ritual, selain halnya
untuk acara pertemuan menjelang perkawinan
.
E. Kosakata
Kosakata Bahasa Osing berakar langsung dari bahasa Jawa Kuna, di mana
banyak kata-kata kuna masih ditemukan di sana, di samping itu, pengaruh
Bahasa Bali juga sedikit signifikan terlihat dalam bahasa ini. Seperti
kosakata sing (tidak) dan bojog (monyet).
Pengaruh Bahasa Inggris
juga masuk kedalam bahasa ini melalui para tuan tanah yang pernah
tinggal di kawasan tersebut, seperti dalam kata :
§ Sulung dari kata so long namun bermakna duluan
§ Nagud dari kata no good bermakna jelek
§ Ngepos dari kata pause bermakna berhenti
§ Enjong dari kata enjoy bermakna enak,menyenangkan
Perbedaan register atau unggah-unggahan ini akan amat jelas ketika dibandingkan dengan Bahasa Jawa. Menurut situs
terdapat tiga varian utama dalam register Bahasa Jawa, yakni Ngoko
(kasar), Madya (biasa), dan Krama (halus). Perbedaan ini selain
dilatarbelakangi oleh faktor usia, status sosial seseorang pun turut
mempengaruhi penggunaan varian dalam Bahasa Jawa. Jika dalam Bahasa
Osing digunakan hanya pronomina yang berbeda untuk menunjuk tingkat usia
antara dua penutur, dalam Bahasa Jawa tidak hanya pronomina yang
berubah, tapi tiap kata yang digunakan pun dapat berubah. Untuk lebih
jelas melihat perubahan dalam varian Bahasa Jawa, dapat dilihat dari
contoh berikut yang diambil dari situs
wikipedia.org
Bahasa Indonesia: “Maaf, saya mau tanya rumah Kak Budi itu, di mana?”
1. Ngoko kasar: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
2. Ngoko alus : “Aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
3. Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?”
4. Madya : “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?”
5. Madya alus : “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?”
6. Krama andhap: “Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
7. Krama : “Nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
8. Krama inggil: “Nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
Dari sini terlihat jelas perbedaan register antara Bahasa Jawa dan
Osing. Jika Bahasa Jawa mendasarkan pada status sosial, sedangkan Bahasa
Osing didasari pada fungsi okasional.
Dalam tiap bahasa, dapat kita temukan perubahan-perubahan yang terjadi
disebabkan oleh faktor historis, geografis, atau sosial. Perubahan ini
dilakukan bukan tanpa tujuan dari penggunanya. Pembentukan identitas
menjadi salah satu tujuan utama di atas kebutuhan dasar kelompok
manusia. Masyarakat Osing dalam kasus ini, berusaha membentuk Bahasa
Osing yang berbeda dengan Bahasa Jawa untuk mengidentifikasikan diri
mereka juga sebagai aset besar Banyuwangi. Meski sama-sama berasal dari
akar Bahasa Jawa Kuno, ada perbedaan yang menyebabkan antara Bahasa
Jawa, Bahasa Osing, dan Bahasa Bali berdiri sendiri. Oleh karena itu,
Bahasa Osing ini dapat kita simpulkan sebagai sebuah bahasa, buka ragam
atau varian dari Bahasa Jawa.
Talking
about the Dialect of Osing, may be I am the one who love learning
language so much. For me, language is amazing and have its uniqueness
which differentiates from one to another. And I felt so lucky because
was born in Banyuwangi. A legendary rich of culture and beautiful
beaches, call it with PLENGKUNG beach and G-LAND which has a very very
excotic and beatiful waves in the second highest after Hawaii. And
Banyuiwangi, the SUNRISE OF JAVA
One thing which makes me feel
lucky is I know the native language in Banyuwangi which called Osing.
Actually my native is Javanese because both my father and mother are
originally from Banyuwangi, espceially in the southest of Banyuwangi. I
think the language is very unique because in terms of pronounciation,
very different from Java language on a daily basis I used. They have a
tone or kind of a particular song in pronounciation or their language
and a little bit of scrannel. That's why it's very difficult to imitate
thie accent, despite I'm from Banyuwangi actually.
I can understand
pretty much when they speak, but I can’t use the language. Even if I
decided to do it, my accent is still Javanese. Hummm…. I started to know
Osing when I was in the primary school where it is located not in the
area whose people did't use Osing as their native language. But, it was
so much fun. Their pronounce is interesting with a certain tone. I miss
it so much. I have downloaded some Kendang Kempul ( Kind of Song which
use Osing) just to be able to hear this language. But, I can’t make the
conversation with them.
But, I'm going to learn more over about Osing to conserve my originally language from Banyuwangi.