https://www.box.com/s/bb4rmtecvqedbsjivr94

Jumat, 09 Oktober 2015

Semarak Banyuwangi Batik Festival Bertajuk Fashion on The Pedestrian


Semarak Banyuwangi Batik Festival Bertajuk Fashion on The Pedestrian         

Banyuwangi - Berlenggak-lenggok di atas catwalk sudah biasa dilakukan model dalam menampilkan busananya. Namun berpose dan berjalan menampilkan kostum di pedestrian Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Blambangan merupakan hal baru.

Acara yang bertajuk "Fashion on The Pedestrian" ini merupakan rangkaian dari Banyuwangi Batik Festival (BBF) yang digelar mulai hari ini, Jumat (19/9/2014). Ajang pamer ini memang sengaja dilombakan. Para model berlenggak-lenggok di karpet merah sepanjang 300 meter.

"Ini sebagai bentuk kontribusi masyarakat dalam mengenalkan batik khas Banyuwangi. Seluruh elemen mulai SKPD, sekolah, perbankan ikut serta dalam ajang ini," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, usai digelarnya ajang tersebut.

Bupati Anas menambahkan, acara ini juga memperkenalkan batik Banyuwangi yang mulai tumbuh. Menurut dia, ada 44 jenis batik khas kota berjuluk Sunise Of Java itu.

"Acara ini juga untuk menunjukkan bahwa industri kreatif batik di daerah yang selama ini kalah dengan kota-kota besar, sudah tumbuh. Tema kemarin gajah uling dan untuk tahun ini adalah kangkung setingkes. Kami hanya ingin menampilkan bahwa batik Banyuwangi ini sangat bagus dan penuh corak," tegas Anas.

Acara Fashion on The Pedestrian ini dibuka Bupati Banyuwangi Azwar Anas yang datang bersama sejumlah artis. Diantaranya Ayu Azhari, Yuni Sara dan Yati Octavia. Hadir pula pengusaha yang pernah tersandung kasus BLBI dalam acara ini, Artalyta Suryani.

Fashion on Pedestrian, Cara Banyuwangi Kenalkan Batik

Fashion on Pedestrian, Cara Banyuwangi Kenalkan Batik

Banyuwangi - Berlenggak-enggok di atas catwalk sudah biasa dilakukan para model. Namun apa jadinya jika pedistrian dijadikan catwalk dalam ajang pamer fashion? Sangat luar biasa!

Di Banyuwangi, pedistrian di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Blambangan Banyuwangi, disulap menjadi panggung catwalk untuk para model batik Banyuwangi dalam ajang 'Fashion on The Pedestrian', Jumat (9/9/2015) sore.

Acara ini merupakan rangkaian Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2015. Sebanyak 170 peserta asal Banyuwangi membawakan busana batik dengan segala kreasinya. Tidak hanya model yang tampil, tapi juga model dadakan juga menunjukkan kebolehannya memamerkan busananya. Sebab banyak PNS dan karyawan perbankan yang ikut acara ini.

Para model amatir itu berlenggak lenggok di trotoar catwalk sepanjang 350 meter.

Kategori busana yang akan dibawakan anatara lain busana casual akan dibawakan peserta anak-anak. Busana pesta akan ditampilkan peserta remaja, dan karyawan akan memperagakan busana kerja.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, selain untuk menarik minat wisatawan, ajang fashion batik di trotoar ini untuk lebih membumikan kekayaan batik di tengah masyarakat.

"Banyuwangi sekarang punya sedikitnya 52 motif batik. Dengan ajang ini, batik bisa menjadi gaya hidup sehari-hari masyarakat," ujarnya kepada detikcom.

Pemkab Banyuwangi kata Anas, selain ingin melibatkan langsung masyarakat dalam promosi batik Banyuwangi dan menumbuhkan kecintaan pada fashion batik lokal, even ini dibuat untuk menunjukkan kalau trotoar  bisa menjadi tempat pertunjukkan yang istimewa selama didesain dengan aman, ramah dan nyaman bagi penggunanya.

"Kami ingin fungsi trotoar dikembalikan bagi kepentingan publik, " kata Bupati Anas.

Rangkaian acara BBF lainnya adalah lomba desain motif, lomba mencanting baik, dan lomba desain busana batik. Acara puncak digelar Sabtu malam (10/9/2015) dengan peragaan busana yang diisi sejumlah bintang tamu, antara lain Puteri Indonesia Anindya Kusuma Putri, dan artis Krisdayanti. 

Bahasa Osing, Aset Terbesar Banyuwangi


Banyuwangi adalah kabupaten terluas di Jawa Timur. Karakter wilayah yang terletak di ujung paling timur pulau Jawa ini juga menarik untuk di ketahui selain wilayah tapal kuda dan wilayah arek yang dikenal dengan sebutan “Lare Osing.”
Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi dan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Suku Osing merupakan perpaduan budaya dan tradisi yang ada di Banyuwangi dan dikenal dengan istilah Negeri Belambangan.
Ada tiga elemen masyarakat yang secara dominan membentuk stereotype karakter Banyuwangi yaitu Jawa Mataraman, Madura-Pandalungan (Tapal Kuda) dan Osing. Persebaran tiga entitas ini bisa ditelisik dengan karakter wilayah secara geografis yaitu Jawa Mataraman lebih banyak mendominasi daerah pegunungan yang banyak hutan seperti wilayah Tegaldlimo, Purwoharjo, Bangorejo dan Tegalsari. Sedangkan masyarakat Madura lebih dominan di daerah gersang seperti di kecamatan Wongsorejo, Muncar dan Glenmore. Sementara masyarakat Osing sendiri dominan di wilayah subur di sekitar Banyuwangi kota, Giri, Glagah, Kabat, Rogojampi, Songgon, Singojuruh, Cluring dan Genteng.
Meski masyarakat yang ada di Banyuwangi ini terdiri dari berbagai elemen dari entitas yang berbeda, namun sangat adaptif, terbuka dan kreatif terhadap unsur kebudayaan lain hingga memungkinkan banyak sekali adanya akulturasi, salah satu hasil dari akulturasi budaya tersebut adalah bahasa Osing.
Karakter egaliter menjadi ciri yang sangat dominan dalam masyarat Osing. Ini tampak dalam bahasa Osing yang tidak mengenal tingkatan bahasa seperti bahasa Jawa atau bahasa Madura. Struktur masyarakat Osing pun tidak berorientasi pada priayi seperti orang Jawa juga tidak pada kyai seperti orang Madura dan tidak juga pada Ksatria seperti kasta orang Bali ( Sumber: Heru SP Saputra, Shrintil, 2007 ).

A. Sejarah Bahasa dan Masyarakat Osing

Sejarah bahasa dan masyarakat Osing kabupaten Banyuwangi tidak bisa dipisahkan dari sejarah kerajaan majapahit. Masyarakat Osing hakikatnya adalah keturunan dari kerajaan Blambangan yang terletak di ujung timur pulau Jawa. Kata Osing sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno Sing atau Hing yang artinya “Tidak.” Sebutan ini menurut Dosen fakultas Sastra Universitas Jember Novi Anoegrajekti (dalam Majalah Tempo on-line, , diunduh pada 17 Maret 2010 pukul 20:30), mengacu pada pengalaman traumatik masyarakat Blambangan akibat serangan kerajaan Majapahit yang terus-menerus. Pengalaman ini mengakibatkan sikap defensif masyarakat Osing terhadap orang Majapahit, sehingga kata Using yang berarti tidak itu tercetus. Ada sikap antipati dari orang Blambangan terhadap masyarakat Jawa Kulon yang berbahasa Jawa mataraman itu. Pernyataan ini diperkuat dengan penelitian Prof. Dr. Suparman Heru Santosa yang telah mengadakan uji linguistik terhadap bahasa Using. Dari penelitian Prof. Suparman, disimpulkan bahwa Bahasa Osing merupakan dialeg dari bahasa Jawa Kuno. Jadi sama dengan bahasa Jawa modern, Sunda, atau Bali. Namun masih kebanyakan dari ahli bahasa Jawa menyatakan bahwa bahasa Osing adalah salah satu dialeg dari bahasa Jawa.
Osing bukan istilah yang dipakai untuk menyebut penduduk keseluruhan Kabupaten Banyuwangi. Suku Osing terdapat hanya di bagian tengah dan bagian utara Kabupaten Banyuwangi, terutama di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Rogojampi, Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Giri, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Songgon.
Secara linguistik, bahasa ini termasuk dalam rumpun bahasa Jawa daricabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia. Namun seiring dengan perkembangannya, bahasa Osing telah mengakar kuat menjadi dialeg khas Banyuwangi. (Sumber: Holmes, Janet.An Introduction to Socialinguistik (2001)).

B. Sistem Pengucapan atau Fonologi

Bahasa Osing mempunyai keunikan dalam sistem pelafalannya, antara lain:
· Adanya diftong [ai] untuk vokal [i] : semua leksikon berakhiran "i" pada bahasa Osing khususnya Banyuwangi selalu terlafal "ai". Seperti misalnya "geni" terbaca "genai", "bengi" terbaca "bengai", "gedigi" (begini) terbaca "gedigai".
· Adanya diftong [au] untuk vokal [u]: leksikon berakhiran "u" hampir selalu terbaca "au". Seperti "gedigu" (begitu) terbaca "gedigau", "asu" terbaca "asau", "awu" terbaca "awau".
· Lafal konsonan [k] untuk konsonan [q]. Di Bahasa Jawa, terutama pada leksikon berakhiran huruf "k" selalu dilafalkan dengan glottal "q". Sedangkan di Bahasa Osing, justru tetap terbaca "k" yang artinya konsonan hambat velar. antara lain "apik" terbaca "apiK", "manuk", terbaca "manuK" dan seterusnya.
· Konsonan glotal [q] yang di Bahasa Jawa justru tidak ada seperti kata [piro'], [kiwo'] dan demikian seterusnya.
· Palatalisasi [y]. Dalam Bahasa Osing, kerap muncul pada leksikon yang mengandung [ba], [pa], [da], [wa]. Seperti "bapak" dilafalkan "byapak", "uwak" dilafalkan "uwyak", "embah" dilafalkan "embyah", "Banyuwangi" dilafalkan "byanyuwangai", "dhawuk" dibaca "dyawuk".
Dari ciri vonologis di atas dapat terlihat perbedaan dengan pengucapan dalam Bahasa Jawa modern. Meski ada kesamaan secara kosakata, namun cara pengucapan yang berbeda terkadang membuat orang yang biasa berbahasa Jawa tak mengerti ketika mendengar ucapan dalam Bahasa Using (Priantono, 2005). Perbedaan inilah yang menjadi salah satu penciri Bahasa Using dari Bahasa Jawa. Meski sama-sama berasal dari akar Bahasa Jawa Kuno, ada perbedaan yang menghasilkan Bahasa Osing sebagai bahasa yang berdiri sendiri.
Ciri khas lain dari bahasa Osing adalah dalam gaya penggunaan. Tidak seperti Bahasa Jawa yang mengenal unggah-unggahan bahasa seperti Ngoko, Kromo, dan seterusnya, Dalam Bahasa Osing tidak ditemukan hal serupa. Yang ada hanya gaya bahasa berbeda untuk situasi yang berbeda, bukan karena status sosial. Selain itu, ada pula perbedaan penggunaan pronomina (kata sapaan) untuk orang dengan umur atau kedudukan yang berbeda, sekali lagi bukan karena status sosialnya.
Cara penggunaan pronomina yang berbeda itu dapat dilihat di bawah ini:
§ Siro wis madhyang? = kamu sudah makan?
§ Riko wis madhyang? = anda sudah makan?
Hiro/Iro = digunakan/lawan bicara untuk yang lebih muda(umur)
Siro = digunakan/lawan bicara untuk yang selevel(umur)
Riko = digunakan/lawan bicara untuk yang diatas kita (umur)
Ndiko = digunakan/lawan bicara untuk orang tua (bapak/ibu)
Sedangkan dalam fungsi penggunaan, dibedakan dua cara yakni cara Osing dan cara Besaki. Cara Osing digunakan untuk keperluan sehari-hari atau kebutuhan umum. Cara Besaki sendiri hanya dipergunakan saat okasi penting seperti ritual keagamaan dan upacara pernikahan.

C. Varian Bahasa Osing

Bahasa Osing mempunyai banyak kesamaan dan memiliki kosakata Bahasa Jawa Kuno yang masih tertinggal. Namun di wilayah Banyuwangi sendiri terdapat variasi penggunaan dan kekunaan juga terlihat di situ. Varian yang dianggap Kunoan terdapat utamanya diwilayah Giri, Glagah dan Licin, dimana bahasa Osing di sana masih dianggap murni. Sedangkan Bahasa Osing di Kabupaten Jember telah banyak terpengaruh bahasa Jawa dan Madura. Serta pelafalan yang berbeda dengan Bahasa Osing di Banyuwangi.

D.Gaya Penggunaan Bahasa

Di kalangan masyarakat Osing, dikenal dua gaya bahasa yang satu sama lain ternyata tidak saling berhubungan. Yakni Cara Osing dan Cara Besiki. Cara Osing adalah gaya bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak mengenal bentuk Ngoko-Krama seperti layaknya Bahasa Jawa umumnya. Yang menjadi pembedanya adalah pronomina yang disesuaikan dengan kedudukan lawan bicara, misalnya :
§ Siro wis madhyang? = kamu sudah makan?
§ Riko wis madhyang? = anda sudah makan?
§ Hiro/Iro = digunakan/lawan bicara untuk yang lebih muda(umur)
§ Siro = digunakan/lawan bicara untuk yang selevel(umur)
§ Riko = digunakan/lawan bicara untuk yang di atas kita (umur)
§ Ndiko = digunakan/lawan bicara untuk orang tua (bapak/ibu)
Sedangkan Cara Besiki adalah bentuk "Jawa Halus" yang dianggap sebagai bentuk wicara ideal. Akan tetapi penggunaannya tidak seperti halnya masyarakat Jawa, Cara Besiki ini hanya dipergunakan untuk kondisi-kondisi khusus yang bersifat keagamaan dan ritual, selain halnya untuk acara pertemuan menjelang perkawinan
.
E. Kosakata

Kosakata Bahasa Osing berakar langsung dari bahasa Jawa Kuna, di mana banyak kata-kata kuna masih ditemukan di sana, di samping itu, pengaruh Bahasa Bali juga sedikit signifikan terlihat dalam bahasa ini. Seperti kosakata sing (tidak) dan bojog (monyet).
Pengaruh Bahasa Inggris juga masuk kedalam bahasa ini melalui para tuan tanah yang pernah tinggal di kawasan tersebut, seperti dalam kata :
§ Sulung dari kata so long namun bermakna duluan
§ Nagud dari kata no good bermakna jelek
§ Ngepos dari kata pause bermakna berhenti
§ Enjong dari kata enjoy bermakna enak,menyenangkan
Perbedaan register atau unggah-unggahan ini akan amat jelas ketika dibandingkan dengan Bahasa Jawa. Menurut situs terdapat tiga varian utama dalam register Bahasa Jawa, yakni Ngoko (kasar), Madya (biasa), dan Krama (halus). Perbedaan ini selain dilatarbelakangi oleh faktor usia, status sosial seseorang pun turut mempengaruhi penggunaan varian dalam Bahasa Jawa. Jika dalam Bahasa Osing digunakan hanya pronomina yang berbeda untuk menunjuk tingkat usia antara dua penutur, dalam Bahasa Jawa tidak hanya pronomina yang berubah, tapi tiap kata yang digunakan pun dapat berubah. Untuk lebih jelas melihat perubahan dalam varian Bahasa Jawa, dapat dilihat dari contoh berikut yang diambil dari situs wikipedia.org
Bahasa Indonesia: “Maaf, saya mau tanya rumah Kak Budi itu, di mana?”
1. Ngoko kasar: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
2. Ngoko alus : “Aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
3. Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?”
4. Madya : “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?”
5. Madya alus : “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?”
6. Krama andhap: “Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
7. Krama : “Nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
8. Krama inggil: “Nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
Dari sini terlihat jelas perbedaan register antara Bahasa Jawa dan Osing. Jika Bahasa Jawa mendasarkan pada status sosial, sedangkan Bahasa Osing didasari pada fungsi okasional.

Dalam tiap bahasa, dapat kita temukan perubahan-perubahan yang terjadi disebabkan oleh faktor historis, geografis, atau sosial. Perubahan ini dilakukan bukan tanpa tujuan dari penggunanya. Pembentukan identitas menjadi salah satu tujuan utama di atas kebutuhan dasar kelompok manusia. Masyarakat Osing dalam kasus ini, berusaha membentuk Bahasa Osing yang berbeda dengan Bahasa Jawa untuk mengidentifikasikan diri mereka juga sebagai aset besar Banyuwangi. Meski sama-sama berasal dari akar Bahasa Jawa Kuno, ada perbedaan yang menyebabkan antara Bahasa Jawa, Bahasa Osing, dan Bahasa Bali berdiri sendiri. Oleh karena itu, Bahasa Osing ini dapat kita simpulkan sebagai sebuah bahasa, buka ragam atau varian dari Bahasa Jawa.



Talking about the Dialect of Osing, may be I am the one who love learning language so much. For me, language is amazing and have its uniqueness which differentiates from one to another. And I felt so lucky because was born in Banyuwangi. A legendary rich of culture and beautiful beaches, call it with PLENGKUNG beach and G-LAND which has a very very excotic and beatiful waves in the second highest after Hawaii. And Banyuiwangi, the SUNRISE OF JAVA
One thing which makes me feel lucky is I know the native language in Banyuwangi which called Osing. Actually my native is Javanese because both my father and mother are originally from Banyuwangi, espceially in the southest of Banyuwangi. I think the language is very unique because in terms of pronounciation, very different from Java language on a daily basis I used. They have a tone or kind of a particular song in pronounciation or their language and a little bit of scrannel. That's why it's very difficult to imitate thie accent, despite I'm from Banyuwangi actually.
I can understand pretty much when they speak, but I can’t use the language. Even if I decided to do it, my accent is still Javanese. Hummm…. I started to know Osing when I was in the primary school where it is located not in the area whose people did't use Osing as their native language. But, it was so much fun. Their pronounce is interesting with a certain tone. I miss it so much. I have downloaded some Kendang Kempul ( Kind of Song which use Osing) just to be able to hear this language. But, I can’t make the conversation with them.
But, I'm going to learn more over about Osing to conserve my originally language from Banyuwangi.

Lima Tradisi Unik Suku Osing



Desa Wisata Adat Osing Kemiren

Indonesia memiliki ribuan suku bangsa yang menyebar dari Sabang sampai Merauke. Setiap suku bangsa itu memiliki adat istiadat dan tradisi yang sampai kini masih dilaksanakan. Di Jawa Timur, tepatnya di Banyuwangi ada satu suku bangsa yang memiliki adat istiadat yang unik dan tiada duanya yaitu Suku Osing. Suku Osing atau biasa diucapkan Suku Using adalah penduduk asli Banyuwangi atau juga disebut sebagai "Wong Blambangan" dan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi.
Meskipun berada di Pulau Jawa namun kebudayaan Suku Osing mempunyai perbedaan yang signifikan dengan Suku Jawa. Sebaliknya, Suku Osing malah mempunyai kedekatan dan kemiripan budaya dengan Suku Bali. Hal ini tak lepas dari sejarah awal munculnya Suku Osing yang terjadi akibat jatuhnya Kerajaan Majapahit. Perang saudara dan pertumbuhan kerajaan-kerajaan Islam yang pesat membuat Majapahit jatuh dan orang-orang Majapahit kemudian mengungsi ke beberapa tempat yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger), Blambangan (Suku Osing) dan Bali.
Kata "Osing" dalam bahasa Osing sendiri bisa diartikan "tidak", sehingga ada anekdot yang mengkisahkan tentang keberadaan orang Osing itu sendiri, ketika orang asing bertanya kepada orang Banyuwangi apakah kalian orang Bali atau orang Jawa? Mereka menjawab dengan kata "Osing" yang artinya tidak keduanya.
Desa Wisata Adat Osing Kemiren

Jika Anda pergi ke Banyuwangi maka jangan lewatkan kesempatan untuk melihat secara langsung keunikan tradisi Suku Osing di Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Di Desa Kemiren terdapat perkampungan asli warga Suku Osing yang memiliki berbagai tradisi dan ritual unik yang masih terpelihara hingga sekarang.

Tradisi Tumpeng Sewu

 
Tumpeng Sewu

Pada awal terbentuknya masyarakat Osing kepercayaan utama suku Osing adalah Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. Namun berkembangnya kerajaan Islam di Pantura menyebabkan Agama Islam menyebar dengan cepatnya di kalangan suku Osing. Itulah sebabnya kenapa tradisi unik Suku Osing merupakan akulturasi budaya Majapahit-Hindu-Budha dan Islam.
Dalam bahasa Jawa, Tumpeng Sewu artinya tumpeng yang berjumlah seribu. Dalam tradisi ini setiap keluarga mengeluarkan minimal satu buah tumpeng, sedangkan kepala keluarga di Desa Kemiren berjumlah sekitar 1.052 orang. Maka tak heran jika disebut Tumpeng Sewu karena bisa jadi keluarga yang berkecukupan akan mengeluarkan lebih dari satu tumpeng.
Tradisi Tumpeng Sewu dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas semua rezeki yang telah mereka terima selama satu tahun. Selain itu Tumpeng Sewu diyakini sebagai selamatan tolak balak yang akan menghindarkan warga Desa Kemiren dari segala bencana dan penyakit yang mematikan. Tumpeng Sewu juga dilaksanakan untuk menghormati datangnya Bulan Dzulhijjah atau Bulan Haji.
Sebagaimana nasi tumpeng pada umumnya, Tumpeng Sewu berbentuk kerucut yang mempunyai filosofi bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta. Yang khas dari Tumpeng Sewu adalah menu Pecel Pithik yaitu ayam panggang yang dicampur dengan parutan kelapa berbumbu tertentu. Pecel Pithik akronim dari kalimat: “Ngucel-ucel barang sithik” yang artinya mengajak orang berhemat dan senantiasa bersyukur.

Tradisi Mepe Kasur

Tradisi Mepe Kasur

Tradisi Mepe Kasur ini masih satu rangkaian dengan Tradisi Tumpeng Sewu. Jika Tumpeng Sewu dilakukan pada malam harinya, maka Mepe Kasur dilakukan dari pagi hingga siang hari. Dalam bahasa Jawa Mepe Kasur artinya menjemur kasur. Masyarakat Osing meyakini salah satu sumber penyakit berasal dari kasur, oleh sebab itu kasur-kasur harus dijemur di halaman rumah agar sumber penyakit itu mati terkena sinar matahari.
Yang unik dari Tradisi Mepe Kasur ini adalah warna kasurnya. Semua kasur milik warga Desa Kemiren berwarna abang cemeng. Dalam bahasa Osing abang artinya merah dan cemeng artinya hitam. Semua kasur di Desa Kemiren memang sengaja dibungkus dengan kain berwarna hitam dengan tepian berwarna merah. Keseragaman ini dimaksudkan sebagai lambang kerukunan dan semangat bekerja dalam rumah tangga.
Tradisi Mepe Kasur

Uniknya lagi, saat pelaksanaan Tradisi Mepe Kasur semua warga menjemur kasurnya secara bersamaan mulai dari jam tujuh pagi hingga matahari tenggelam. Maka jangan heran manakala melihat pemandangan unik di Desa Kemiren menjelang Hari Raya Idul Adha yaitu di kanan dan kiri jalan berderet ratusan kasur dengan warna yang seragam: abang cemeng.
Setiap warga Desa Kemiren yang baru menikah pasti memiliki kasur abang cemeng. Warna cemeng dimaksudkan untuk menolak bala atau sial, sedangkan warna merah melambangkan kelanggengan dalam rumah tangga. Jadi setiap pasangan baru berharap terjauh dari sial dan rumah tangganya langgeng hingga maut memisahkan.

Selametan Sedekah Lebaran

  
Selametan Sedekah Lebaran


Tradisi Selametan Sedekah Lebaran merupakan wujud syukur atas kemenangan warga Desa Kemiren yang telah berhasil menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Tujuan diadakannnya selametan ini agar seluruh keluarga diberi keselamatan saat unjung-unjung (silaturahmi) di hari lebaran. Selain itu juga, warga Desa Kemiren mengirimkan doa bagi para leluhur yang sudah meninggal.
Dalam Selametan Lebaran ini masyarakat melakukannya secara berkelompok dengan kerabat atau tetangga yang berjumlah antara 10-20 orang. Secara bersama-sama mereka akan mengunjungi setiap rumah anggota dengan bergantian. Di setiap rumah mereka akan berdoa untuk para leluhur dan untuk keselamatan keluarga tuan rumah dalam merayakan Idul Fitri.
Letak keunikan dari tradisi ini adalah selesai berdoa mereka harus menyantap hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah. Bisa dibayangkan, jika anggota kelompok selametannya berjumlah 20 orang maka mereka harus makan sebanyak 20 kali juga. Tentu perut kita tidak akan muat jika diharuskan makan penuh hingga 20 kali, untuk menyiasatinya maka hidangan yang dimakan biasanya hanya kerupuk atau buah-buahan saja. Jadi hanya sebagai syarat saja bahwa mereka telah mencicipi hidangan yang telah disediakan tuan rumah.

Tradisi Mengunyah Sirih (Nginang)

Tradisi Nginang

Nginang adalah mengunyah sirih, tembakau, jambe, gambir dan kapur. Tradisi nginang atau mengunyah sirih ini sudah sulit kita temui pada masyarakat perkotaan di Indonesia. Namun di Desa Kemiren, tradisi nginang ini masih banyak yang melakukannya, meskipun terbatas di kelompok usia lanjut saja. Tradisi Nginang sendiri hanya boleh dilakukan oleh wanita yang sudah menikah, dengan kata lain nginang bisa menjadi penanda apakah seorang wanita sudah mempunyai pasangan hidup atau belum.
Yang membuat unik, setiap tahun diadakan lomba nginang bagi para warga Desa Kemiren. Tujuan diadakan lomba nginang adalah untuk melestarikan tradisi nginang di kalangan masyarakat desa Kemiren. Hal ini dilator belakangi fakta bahwa kegiatan nginang sudah nyaris hilang di kalangan anak muda. Maka tidak  heran jika pesertanya adalah nenek-nenek berusia di atas 50 tahun yang merupakan perwakilan dari 28 RT di Desa Kemiren.
Lomba Nginang Kemiren

Dalam lomba nginang tersebut,  para nenek duduk di kursi yang telah disediakan oleh panitia untuk menunggu giliran tampil di panggung. Nenek-nenek penjaga tradisi itu memakai baju terbaiknya yaitu jarik dan kebaya. Setiap peserta membawa tempat kinang dari rumah. Tempat kinang biasanya terbuat dari kuningan atau kayu yang berukir indah.
Kriteria penilaian didasarkan pada kepiawaian para nenek ketika meracik dan mengunyah sirih sambil melakukan wangsalan atau berbalas pantun, menari atau nembang. Tentu dibutuhkan kemampuan multitasking yang mumpuni untuk melakukan itu semua.

Tradisi Koloan

Bagi anak-anak Suku Osing di Desa Kemiren yang akan khitan atau sunat wajib menjalani ritual khusus yang disebut Koloan. Koloan artinya jebakan. Ritual Koloan dilaksanakan untuk mempersiapkan mental karena biasanya seorang anak merasa takut kalau disunat.
Dalam tradisi Koloan, sang anak yang akan menjalani khitan harus ditetesi darah ayam yang dipimpin oleh pemimpin ritual. Dengan bertelanjang dada, si anak duduk di atas kursi kayu kecil, di depannya disajikan beberapa sesaji. Sang pemimpin ritual lalu mengucapkan doa dalam Bahasa Osing sambil mengusapkan bedak di wajah si anak.
Setelah itu seekor ayam jago warna merah disembelih. Ayam yang dipakai tidak boleh sembarangan, bulunya harus berwarna merah dan belum pernah kawin. Darah segar yang keluar dari leher ayam kemudian diteteskan di atas kepala si anak hingga ayamnya mati. Setelah itu pemimpian ritual akan mengusapkan pitung tawar pada kepala si anak. Pitung tawar terbuat dari beras dan kunir, tujuannya agar si anak mempunyai kekebalan dari segala jenis penyakit dan marabahaya.

Kemudian si anak dibawa ke sungai dan dimandikan oleh pemimpin ritual. Ketika berjalan ke sungai, si anak juga harus melewati benang yang diletakkan melintang di tanah. Bagi anak yang sudah menjalani ritual Koloan dipercayai tidak lagi merasa takut saat akan disunat.


Menurut salah satu pemimpin ritual Koloan, Sanusi Marhaedi , menyembelih ayam merupakan simbolisasi pengorbanan seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim yang mengorbankan anaknya Nabi Ismail. Harapannya setelah disunat nantinya si bocah bisa berbakti pada orangtuanya dan  meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail. Selain itu juga diharapkan agar setelah melakukan pengorbanan semuanya berjalan dengan lancar dan tidak ada halangan. Ritual Koloan akan diakhiri dengan makan bersama di halaman orangtua si anak dengan menu khas suku Osing, yaitu pecel pithik yang dihadiri oleh para tetangga.
 

Angkat Motif "Paras Gempal", Banyuwangi Gelar Festival Batik



Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, kembali mengelar festival batik di tahun ketiga dengan mengangkat motif batik "Paras Gempal".  Motif tersebut merupakan salah satu dari 44 motif batik yang dimiliki Kabupaten Banyuwangi.

"Paras" adalah batu cadas dan "gempal" artinya runtuh. Jika disatukan "Paras Gempal" bermakna kerukunan terhadap sesama. Sebelumnya Banyuwangi Batik Festival telah mengangkat tema motif batik "Gajah Uling" dan "Kangkung Setingkes".

Kepada KompasTravel, Bupati Banyuwangi Abdulah Azwar Anas menjelaskan pada Februari 2015 lalu, Batik Banyuwangi telah hadir di Indonesia Fashion Week sehingga semakin dikenal. Selain itu juga diharapkan untuk peningkatan kesejahteraan bagi pelaku industri batik di Banyuwangi.

"Banyuwangi Batik Festival 2015 puncaknya akan digelar pada Sabtu, 10 Otober 2015 yang akan dihadiri langsung oleh Putri Indonesia 2015 serta para finalis yang akan membawakan dua desainer batik nasional," jelas Anas.

Desainer batik nasional yang akan hadir adalah Pricilla Saputro dan Irma Lumiga. Pricilla merupakan desainer batik nasional yang salah satunya terlibat dalam merancang busana Miss Universe dan Puteri Indonesia. Sedangkan Irma Lumiga adalah desainer asli Banyuwangi yang telah sukses di Bali.

Sehari sebelum helatan akbar BBF atau hari ini, Jumat (9/10/2015), akan digelar Fashion on Pedestrian. Peragaan busana yang digelar di ruas pejalan kaki di Taman Blambangan ini akan diikuti puluhan model yang membawakan busana rancangan para desainer lokal Banyuwangi. Selain itu dalam rangkaian acara tersebut juga digelar lomba desain motif batik 2015 yang sudah digelar setiap tahun sejak 2011.

"Lomba desain motif batik untuk memperkaya khazanah batik daerah. Kalau awalnya hanya ada 22 motif batik, saat ini sudah lebih 40 motif," kata Hary Cahyo Purnomo, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan Kabupaten Banyuwangi. 

Paras Gempal akan meriahkan Banyuwangi Batik Festival 2015

Paras Gempal akan meriahkan Banyuwangi Batik Festival 2015
Paras Gempal akan unjuk kebolehan di Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2015, Sabtu (10/10). Event ini untuk mengeksplorasi khasanah batik lokal dan industri kreatif di Bumi Blambangan, sebutan Banyuwangi, Jawa Timur.

Paras Gempal merupakan satu dari 44 motif batik andalan yang dimiliki kabupaten berjuluk Sunrise of Java ini. Dan di ajang BBF 2015 ini, si Paras Gempal menjadi tema pertunjukan di event tahunan yang digelar Banyuwangi.

Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, setiap motif batik yang dimiliki daerahnya, memiliki filosofi tinggi. Seperti motif Paras Gempal misalnya. Kata dia, Paras adalah batu cadas dan Gempal artinya runtuh.

Ketika Paras dan Gempal disatukan, akan mengandung makna kerukunan antar sesama.

"Batik kini bukan lagi menjadi fesyen yang out of date. Batik tidak lagi dianggap bagian dari gaya lawas (kuno), tapi sudah menjadi bagian gaya hidup masa kini dan menjadi tren," demikian kata Anas, Jumat (9/10).

Menurut Anas, tren harus dijawab dengan keseriusan semua elemen untuk mendorong pengembangan batik, baik dari sisi desain, kemasan event maupun aspek ekonominya.

"Itu semua kita wujudkan melalui Banyuwangi Batik Festival," ucapnya.

Selanjutnya event fesyen bergensi ini akan digelar Pemkab Banyuwangi pada Sabtu malam besok di Taman Blambangan.

"BBF ini sebagai wujud komitmen pemerintah dan masyarakat dalam menumbuhkembangkan kekayaan budaya lokal, khususnya batik, agar semakin diminati masyarakat, baik untuk fasyen maupun sebagai identitas daerah."

Kembali dia melanjutkan, event ini juga sebagai bentuk ikhtiar Banyuwangi mempromosikan batik lokal ke khalayak luas. Dan melalui BBF 2015 ini, Pemkab Banyuwangi juga ingin memberikan kesempatan bagi para pelaku industri batik daerah untuk mengembangkan inspirasi baru di bidang pembuatan batik daerah.

Ajang ini, masih kata Anas, juga bisa menjadi media strategis bagi para pelaku usaha batik untuk bertemu dengan pasar yang lebih luas.

"Kami ingin pengerajin batik lokal mendapat pengalaman dan bisa membawa batik Banyuwangi ke level lebih tinggi. Apalagi, di bulan Febuari lalu, batik Banyuwangi telah hadir di ajang busana prestisius, yaitu Indonesia Fashion Week. Semua upaya ini, ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan pelaku batik itu sendiri," paparnya.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan, Hary Cahyo Purnomo menambahkan, BBF yang telah memasuki tahun ketiga ini, memiliki rangkaian acara beragam, mulai lomba desain batik, busana batik, lomba menyunting batik, pameran dan promosi batik, Fashion Show Batik on the Pedestrian dan puncaknya BBF Fashion Show pada hari Sabtu besok di Taman Blambangan.

"Rangkaian event ini bisa mewadahi tiap proses industri batik mulai proses kreativitas desainnya sampai pertunjukan hasil jadinya. Semua kami lombakan, kecuali pameran, untuk memotivasi agar batik Banyuwangi makin berkembang dan inovatif," ungkap Hary.

Sebagai inspirasi, di ajang BBF 2015 ini, Pemkab Banyuwangi juga menghadirkan desainer batik nasional, Pricilla Saputro dan Irma Lumiga. Untuk salah satu peragawatinya, diundang khusus adalah Putri Indonesia 2015, Anindya Kusuma Putri.

Sedang untuk memeriahkan acara, BBF 2015 juga menghadirkan Diva Pop Indonesia, Krisdayanti. Adik kandung penyanyi Yuni Sarah ini, akan ikut berlenggak-lenggok di atas catwalk BBF dengan mengenakan batik Banyuwangi. Krisdayanti juga akan berduet dengan Danang KDI.

Sebelum malam puncak BBF 2015 itu, sore ini, Pemkab Banyuwangi juga menggelar Fashion on the Pedestrian. Peragaan busana yang digelar di atas trotoar Taman Blambangan, yang diikuti puluhan model, mulai dari pelajar, pegawai negeri sipil (PNS) hingga pegawai perbankan.

Pemkab Banyuwangi Kembali Gelar 'Banyuwangi Batik Festival' 20


  Pemkab Banyuwangi Kembali Gelar Banyuwangi Batik Festival 2015

Banyuwangi - Untuk ketiga kalinya, Pemkab Banyuwangi menggelar Banyuwangi Batik Festival. Ajang untuk mengeksplorasi khazanah kekayaan batik lokal dan industri kreatif akan digelar, Sabtu (10/9/2015) malam, di Taman Blambangan.

Even kali ini bisa disebut event bertabur bintang. Untuk menambah kemeriahan acara, BBF juga akan menampilkan Diva Pop Indonesia Krisdayanti (KD). KD akan ikut berlengak-lenggok di atas catwalk BBF mengenakan busana batik Banyuwangi.

Selain itu, finalis Putri Indonesia dan Putri Indonesia 2015, Anindya Kusuma Putri akan menjadi salah satu peragawati yang membawakan karya-karya desainer batik nasional yakni Pricilla Saputro dan Irma Lumiga. Pricilla merupakan desainer batik nasional yang salah satunya terlibat dalam merancang busana Miss Universe dan Puteri Indonesia. Sedangkan  Irma Lumiga adalah desainer asli Banyuwangi yang telah sukses di Bali.

"Pergelaran BBF ini merupakan wujud komitmen pemerintah dan masyarakat Banyuwangi dalam menumbuhkembangkan kekayaan budaya lokal, khususnya batik agar semakin diminati masyarakat. Baik untuk fesyen maupun sebagai indentitas daerah. Event ini juga sebagai ikhtiar Banyuwangi dalam mempromosikan batik lokal ke khalayak luas," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kepada detikcom, Jumat (9/9/2015).

Untuk tahun ini, BBF 2015 mengangkat motif 'Paras Gempal'. Salah satu motif dari 44 motif batik yang dimiliki oleh Banyuwangi. Sebelumnya BBF telah mengangkat tema motif batik Gajah Uling dan Kangkung Setingkes.

Batik kini bukan lagi menjadi fesyen yang out of date. Batik tidak lagi dianggap bagian dari gaya lawas, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masa kini dan menjadi tren. Tren ini harus dijawab dengan keseriusan semua elemen untuk mendorong pengembangan batik, baik dari sisi desain, kemasan event, maupun aspek ekonominya.

"Itu semua kita wujudkan melalui Banyuwangi Batik Festival," ujar Anas.

Melalui even BBF, lanjut Anas, pemerintah ingin memberikan kesempatan bagi para pelaku industri batik daerah untuk mendapatkan inspirasi baru dalam mengembangkan batik daerah. Ajang ini juga menjadi media yang strategis bagi para pengusaha batik untuk bertemu dengan pasar batik yang lebih luas.

"Kami ingin pengrajin batik lokal mendapatkan pengalaman yang menginspirasi dan bisa membawa Batik Banyuwangi naik ke level yang lebih tinggi. Apalagi Februari 2015 lalu Batik Banyuwangi telah hadir di ajang peragaan busana prestisius, Indonesia Fashion Week. Semua upaya kami ini ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan bagi pelaku industri batik itu sendiri," ujar Anas.

Banyuwangi batik festival yang telah memasuki penyelenggaraan tahun ketiga ini memiliki rangkaian even yang beragam. Mulai lomba desain batik, lomba busana batik, lomba mencanting, pameran dan promosi batik, Fashion Show Batik On the Pedestrian dan puncaknya BBF Fashion Show.
(bdh/bdh)